Lingkaran cahaya di sekitar Matahari dikenal sebagai halo. Bentuknya memang menjadi petunjuk awal, tetapi warna dan proses yang membentuknya memberi gambaran lebih lengkap. Agar tidak buru-buru menyamakannya dengan korona, penting juga membedakan ciri yang bisa dijelaskan dari hal yang belum cukup untuk dipastikan.
Kristal es membentuk halo Matahari
Halo adalah fenomena optis berupa lingkaran cahaya di sekitar Matahari atau Bulan. Halo umumnya terbentuk ketika cahaya berinteraksi dengan kristal es pada awan cirrus, biasanya cirrostratus, di bagian atas troposfer. Awan tersebut berada sekitar 5–10 kilometer di atas permukaan Bumi. [1]
Kristal es dapat berbentuk batang atau prisma. Ketika cahaya Matahari dipantulkan dan dibiaskan oleh permukaannya, arah cahaya berubah dan sebagian terurai menjadi beberapa warna. Bentuk serta arah kristal ikut memengaruhi ke mana cahaya diteruskan, sehingga tampilan halo dapat beragam. [1]
Lingkaran dan warna sebagai petunjuk
Ciri yang paling mudah dikenali adalah lingkaran cahaya yang mengitari Matahari. Warna yang tampak terurai dapat menjadi petunjuk tambahan, sesuai proses dispersi cahaya pada kristal es. Namun, tidak tepat menganggap setiap halo harus memperlihatkan warna dengan ketajaman yang sama: bentuk dan arah kristal memengaruhi cahaya yang sampai ke pengamat. [1]
Kristal es juga dapat terbentuk dekat permukaan Bumi dalam cuaca yang sangat dingin. Kristal kecil ini dikenal sebagai debu berlian dan dapat memantulkan cahaya. Jadi, keberadaan halo tidak selalu harus dikaitkan dengan awan tinggi, meskipun awan cirrus dan cirrostratus merupakan penyebab yang umum. [1]
Membedakan halo dari korona dengan hati-hati
Lingkaran di sekitar Matahari adalah petunjuk untuk mengenali halo, tetapi bentuk lingkaran saja belum cukup untuk menetapkan perbedaan visual yang pasti dengan korona. Ciri yang dapat dijelaskan di sini adalah lingkaran halo serta kemungkinan warna yang terurai akibat interaksi cahaya dengan kristal es. Untuk membuat pembandingan lebih tegas, diperlukan ciri korona yang spesifik; ukuran, warna, atau kecerahan tidak sebaiknya dijadikan aturan pembeda tanpa dasar yang cukup.
Dengan demikian, halo dapat dipahami sebagai pola cahaya yang berkaitan dengan kristal es dan arah pembiasan serta pantulannya. Lingkaran memberi petunjuk pertama, sementara warna dan kondisi pembentuknya membantu menjelaskan fenomena tersebut—tanpa mengubah kemiripan bentuk menjadi kesimpulan pasti tentang korona. [1]
Sumber
- [1] Wikipedia bahasa Indonesia — Halo (fenomena optis). https://id.wikipedia.org/w/index.php?oldid=29829334&title=Halo_%28fenomena_optis%29 (diakses 2026-10-02).